Pupusnya masyarakat “kampung kemasan”

Tak jauh dari sungai besar  yang mengalir sepanjang kota Tegal dan dihiasi hijau tanaman padi, meskipun hanya sejengkal tanah di pinggiran kali membuat kampung itu sedikit terlihat lebih hijau. Tak jauh dari aroma hijau pepohonan dan sawah pinggiran tanggul kali gung, disana terlihat ramai para remaja maupun orang tua yang sibuk dari pagi hingga sore layaknya masyarakat jakarta, bahkan terkadang sampai larut malam masih terdengar dering alat mata pencaharian mereka. Saat itu aku hanya bisa menyaksikan sambil bermain layaknya anak kecil yang lain. Setiap pagi hingga sore aku melihat mereka sedang asyik memainkan peralatan, yang saat itu sudah aku kenal dari Ayahku dan juga dari mereka yang bekerja di belakang rumah. Tang, palu, solder, cupit dll adalah pemandangan yang setiap hari aku saksikan dibelakang rumahku.  Terbesit dalam benakku apakah aku akan menjadi mereka kelak saat aku berkewajiban mencari nafkah, ahh apapun itu asalkan halal dan tidak merepotkan orang lain pasti akan aku jalani.

Ayahku adalah orang paling hebat yang aku kenal, bahkan lebih hebat dari presiden manapun didunia ini. Saat aku masih duduk dibangku SD aku hanya bisa menggangu ayahku dan mereka yang sedang bekerja di belakang rumah. Mereka sangat mahir dalam membuat perhiasan mulai dari cincin, gelang, kalung, dan masih banyak jenis lainnya.

Banyak sekali aku temukan rumah-rumah disepanjang kampungku berkonsep sama seperti rumahku, di belakang rumah ada meja-meja kotor dan peralatan-peralatan yang sama dengan peralatan yang terdampar di rumahku. Mereka begitu bersemangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seiring berlalunya waktu, sedikit demi sedikit aku mengerti konsep mereka dalam berusaha. Mungkin sudah menjadi rahasia umum jika sebuah bidang usaha selalu berawal dari produksi dan berujung marketing. Tak ayal jika aku ambil kesimpulan begitu sederhananya mereka dalam melakukan bisnis proses yang aku fikir hanya sedikit sekali yang mengerti tentang hal itu. Kebanyakan dari mereka hanyalah pekerja dengan semangat tinggi tanpa berfikir bagaimana sebuah pekerjaan yang mereka jalani bisa berjalan atau bahkan berkembang sehingga keberlangsungan mereka dalam bekerja menjadi lebih lama lagi.

Sangat sederhana sekali rasanya seseorang dari mereka bekerja pada pemilik usaha, jangankan sebuah dana pensiun dan jaminan kesehatan, kontrak kerja pun mereka fikir hal sepele yang hanya akan membuat rumit pekerjaan. Entah disebabkan karena tingginya kepercayaan kepada pemilik usaha atau disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka. Memang benar kata banyak seorang ahli usaha, bahwa awal dari sebuah kerjasama adalah kepercayaan, jangan pernah mengecewakan seseorang jika masih ingin kehidupannya berlangsung. Namun yang demikian rasanya begitu mengkhawatirkan jika suatu saat tidak ada lagi pesanan dari pelanggan yang biasa membeli barang dari produk kampungku.

Dugaanku sedikit benar, saat itu terjadi krisis dunia yang entah dari mana sebabnya aku masih belum begitu mengerti, namun yang pasti saat itu di negeri ini terjadi pergantian rezim yang tentunya juga akan merubah semua kebijakan pemerintah. Aku tak peduli dengan apa yang sedang terjadi di atas sana, yang aku pedulikan hanyalah ayahku yang saat itu banyak kehilangan pesanan dari toko kepercayaan beliau. Dan aku juga miris melihat banyak tetanggaku yang pada saat itu kehilangan pekerjaannya. Namun tidak menyerah sampai disitu, mereka nampaknya melihat peluang besar dari efek krisis yang melanda negeri ini, kurs mata uang rupiah yang saat itu turun sebanding dengan naiknya nilai emas. Banyak sekali dari teman-teman yang sebelumnya bekerja sebagai produsen berbondong-bondong turun ke jalan untuk mencari perhiasan ditangan konsumen yang kebanyakan adalah pengusaha bawang dan padi, dan juga pengusaha warung di jakarta, ditaksirlah barang mereka dengan harga lebih tinggi dari awal mereka membeli di toko. Terang saja para konsumen pemilik perhiasan mengikhlaskan barangnya dibeli dengan asumsi dia akan mendapatkan keuntungan yang besar. Namun demikian ketika mereka pergi lagi ke toko emas, mereka mendapatkan harga perhiasan yang sudah tinggi pula. Nampaknya mereka hanyalah ketinggalan informasi dalam satu session masa panen, sehingga pada saat para pekerja dikampungku mencari barang dari konsumen, mereka sudah mengetahui harga kisaran emas yang setiap hari berubah.

Masa-masa memborong emas dari tangan konsumen berlangsung sangat singkat, namun meskipun berlangsung sangat singkat, banyak sekali orang-orang dikampungku yang mendapatkan keuntungan besar pada masa itu. Masa itu benar-benar menjadi awal berubahnya pola kehidupan bisnis dikampungku, tidak sedikit dari mereka yang harus gulung tikar tidak kuat modal atau kehilangan pesanan dari toko atau sales pribadinya, dan tidak sedikit pula yang pelan-pelan berubah haluan demi eksistensi keluarga. Sedikit demi sedikit banyak pula yang harus keluar turun ke lapangan demi mendapatkan pelanggan (toko) baru, sehingga terlihat sepi meja-meja kotor di belakang rumah. Dengan banyaknya orang yang turun mencari pelanggan baru, sedikit menjadi angin segar bagi para produsen sehingga tempat kerja menjadi sedikit lebih ramai lagi. Bagi yang berubah haluan, tidak sedikit pula yang mendapatkan keberhasilan sehingga pada saat itu suasana menjadi sedikit lebih ramai walaupun tidak seramai dulu.

Entah salah siapa, saat-saat ramai pekerjaan dikampungku surut kembali. Sepertinya ini berbeda dengan sebelumnya, kali ini perubahan nilai emas tidak begitu signifikan, namun dari itu barang yang diproduksi turun drastis. Banyak orang bilang bahwa, kehidupan sales/ marketing mereka tidak ada komitmen menjaga harga, sehingga diantara mereka banyak bersaing yang menyebabkan kualitas produksi menurun, dan hal ini tak ayal jika para konsumen tidak percaya lagi dengan sebagian barang yang mereka tawarkan. Namun tidak itu saja, sepertinya redupnya masyarakat dikampungku juga disebabkan dengan banyaknya investor asing yang mendirikan sebuah perusahaan perajin emas di kota besar, sehingga bertambah ketat pula persaingan di dunia kemasan.

Aku fikir ini adalah tugas pemangku negara yang bisa membuat kebijakan untuk melindungi masyarakatnya, namun hal itu rasanya percuma jika kita terlalu berharap besar dengan adanya pemerintah. Bukan berarti kita menafikan adanya pemerintah, namun kenyataannya tidak pernah ada kebijakan dan langkah kongkrit yang membela kaum kecil. Produk-produk asing khususnya dari negara tirai bambu begitu deras masuk ke pasar lokal, entah bagaimana cara mereka berbisnis, namun satu hal yang pasti adalah harga produk mereka relatif lebih murah dibandingkan dengan produk dari kampungku.

Seiring berjalannya waktu, runtuhnya masyarakat dikampung kemasan semakin terasa ketika perusahaan besar menerapkan komputerisasi untuk produksi perhiasan, dari mulai disain perhiasan hingga sistem penjualannya. Dengan penerapan sistem ini, efisiensi biaya produksi akan semakin besar, sehingga harga produknyapun sudah barang tentu akan semakin murah. Ditambah lagi dengan adanya resesi negara-negara Eropa dan Amerika yang membuat harga emas membumbung tinggi. Aku berfikir jangankan masyarakat kampungku yang sederhana, Masyarakat Eropa dan Amerika pun yang notabene adalah negara maju tidak sedikit yang memberhentikan karyawannya dengan adanya produk dari tirai bambu.

Sungguh semakin tragis kondisi masyarakat dikampungku saat ini, sudah sangat banyak yang menyerah dengan kondisi seperti ini. Sehingga mulai banyak pula teman-temanku usia remaja harus terpaksa hijrah ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan yang menurut mereka layak. Dari mulai jual makanan hingga menjadi buruh di perusahaan asing di kota-kota besar, adapula yang tetap menekuni pekerjaan seperti dahulu yaitu perajin emas, namun bukan lagi di kampung asri itu, akan tetapi di kota besar yang kejam.

Entah akan sampai kapan kondisi ini berlangsung, dan entah harus dari mana memulainya lagi untuk membenahi kondisi ini, ketika masyarakat sudah lelah dengan kondisi ini, justru seharusnya ada inovasi dalam bidang perajin emas. Aku fikir sebuah awal usaha adalah inovasi, bukan berarti mengesampingkan modal dan sisi lain dari usaha, namun keberlangsungan sebuah usaha adalah adanya inovasi. Inovasi dari mulai produksi hingga pemasaran untuk bidang perajin emas. Atau mungkin aku juga berharap ada belas kasihan dari pemilik negara ini untuk membangkitkan kembali usah kecil, bukan hanya dari modal, namun juga langkah kongkrit yang bisa menumbuhkan semangat bekerja dan berinovasi kaum remaja masyarakat kampung kemasan. Sayang sekali aku tidak bisa membantunya, aku hanyalah seorang anak pecundang yang lari dari hempasan reruntuhan masyarakat kampung kemasan. Semoga ada saatnya nanti masyarakat dikampungku dipenuhi semangat bekerja dan semangat untuk bergandeng tangan membangun kampung asri itu, ada saatnya nanti para ayah dikampungku tidak keberatan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, ada saatnya nanti kehidupan agama dikampung itu tumbuh seiring tumbuhnya perekonomian masyarakat penghuninya, ada saatnya nanti para ibu rumah tangga dengan ceria mendidik anak-anaknya dirumah, ada saatnya nanti para remaja tidak lagi mencaci nasib mereka sendiri, dan ada saatnya nanti kesantunan masyarakat dikampungku menjadi contoh dengan semangatnya para guru ruhani yang membimbing masyarakatnya. Maafkan aku ayah, aku masih belum bisa menebus cita-citamu..

 

Slamet Sudiarjo Ibnu Dahran

(Didedikasikan untuk alm ayahku tercinta, semoga engkau damai dalam pelukan cinta Tuhan. AlFaatihah..)


About this entry