Globalisasi

Globalisasi tidak bisa dihentikan, akan tetapi kita bisa mengendalikannya dengan terus menerus bekerja keras dan cerdas tanpa lelah, kemudian hasil dari kerja tersebut dituangkan menjadi sebuah produk sendiri (dalam negeri) dan dipasarkan seluas-luasnya ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia, berani bersaing dengan produk-produk lain di dunia.

Ironis sekali kita sering mengecam globalisasi dan sering kita mendengar bahkan mengecam bangsa lain seperti Amerika, akan tetapi kebutuhan sehari-hari kita sendiri secara sadar ataupun tidak sebenarnya kita menggunakan produk mereka. Sebagai contoh sederhana, kita mengecam dan dengan keras menolak neoliberalisme amerika dan sangat anti amerika saat membaca atau menyaksikan tayangan media, tidak lama kemudian kita berkumpul dengan teman ataupun keluarga untuk mencari makan pergi atau pesan Mc. D, KFC, atau bahkan Pizza Hut, *Mbok yo makan di warteg ato nasi padang gituh J*. Setelah makan makanan tersebut kita membersihkan mulut dan gigi kita menggunakan pepsoden (unilever).

Apakah masih pantas kita disebut patriot bangsa, sedangkan sikap dan pola hidup kita masih saja hanya dimulut. Sama sekali belum menunjukkan kerja nyata untuk bangsa. Bahkan kita terhipnotis berita-berita di media yang kita sendiri belum tentu tahu pasti kebenarannya.

Sebut saja Tuxuci, Esemka, Kincir Angin (Pembangkit listrik), Pesawat baling-baling, Pesawat tanpa awak (pengintai), dan masih banyak lagi produk hasil karya anak bangsa dari bidang seni, budaya, teknologi, sastra, arsitektur, metode pengajaran, kerajinan tangan yang terlantar kemudian dijual ke bangsa lain demi untuk menyambung hidup para peneliti yang ada didalamnya.

Sangat miris mendengarnya ketika ada seseorang yang ingin memperkenalkan dan mempublikasikan karya-karya tersebut harus diasingkan dan dikucilkan hanya karena kepentingan politik. Kenyataan politik negeri ini mengatakan bahwa untuk menjadi pemimpin adalah melalui partai politik, bahkan jabatan setingkat menteri adalah jabatan politik dengan mengesampingkan profesionalisme kerja dan pengetahuan. Kemudian jika kita yang mempublikasikan karya tersebut tidak sepaham dan se-partai politik, maka karya tersebut akan menjadi korban caci maki yang menjijikan. Pada akhirnya penelitian dan perbaikan produk-produk dalam negeri akan terhenti, kecuali yang produk-produk yang hanya didukung oleh kepentingan poliltik yang sedang berkuasa atau menguasai negeri ini.

Disatu sisi kita ingin menjadi bangsa yang maju dan tidak dijajah bangsa lain, akan tetapi secara tidak sadar kita berbuat menghancurkan bangsa sendiri dengan bersikap egois mencela dan mencaci maki produk orang lain yang tidak sama baju politiknya dengan kita.

Mungkin karena alasan inilah media di negeri ini lebih senang dengan mengangkat isu-isu politik tanpa memikirkan apakah akan menyebkan perpecahan atau persatuan, media lebih senang memuat berita politik karena memang masyarakat kira senang dengan masalah ini. Berita-berita tentang mahasiswa cum laude (gue sendiri jauh dari cum laude), riset anak-anak SMK/SMU, dan tentang pengetahuan yang seharusnya bisa menjadi inspirasi anak-anak yang lain seakan-akan tidak ada sama sekali, atau memang karena hati ini ada rasa iri dengki jika melihat orang lain berhasil? Sehingga berita-berita seperti ini tidak perlu dimunculkan di media.

Lantas masih pantaskah kita menginginkan negeri ini menjadi negeri yang maju, yang tidak dijajah bangsa lain sedangkan kita sendiri satu sama lain sangat mudah dipecah belah?

Salam Indonesia Raya

– Slamet Ijo –

 

 


About this entry